Logo Dahoeloe.co

“Melu Nippon Tambah Soro” : Kritik Cak Durasim dari Panggung Ludruk

Tim Dahoeloe.co

Pertunjukan Ludruk
Pict : Ludruk Cak Durasim.

Di tengah ketatnya pengawasan Jepang, Cak Durasim menyelipkan kritik melalui kidungan ludruk. Kalimat sederhana dari atas panggung itu kemudian menjadi salah satu kisah paling dikenang dalam sejarah ludruk Surabaya.

Ludruk bukan sekadar hiburan bagi masyarakat Surabaya. Melalui lawakan, dialog, dan kidungan, panggung kesenian rakyat ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan terhadap keadaan di sekitarnya. Salah satu seniman yang dikenal memanfaatkan kekuatan tersebut adalah Cak Durasim.

Pada masa pendudukan Jepang, kehidupan masyarakat berada di bawah pengawasan yang ketat. Pemerintah Jepang juga memanfaatkan berbagai bentuk kesenian sebagai sarana propaganda. Namun, di atas panggung ludruk, Durasim justru sebuah parikan yang kemudian terkenal:

“Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah soro.”

Secara sederhana, parikan tersebut berarti “Pagupon rumah burung dara, ikut Nippon tambah sengsara.” Kata Nippon merujuk pada Jepang, sementara tambah soro menggambarkan kehidupan masyarakat yang semakin sulit selama masa pendudukan. Kritik yang terdengar sederhana itu membawa konsekuensi. Penelitian mengenai sejarah teater tradisi Surabaya mencatat bahwa pertunjukan Cak Durasim dianggap mengandung agitasi politik. Durasim bersama sejumlah pemain ludruk kemudian berhadapan dengan Kempetai, polisi militer Jepang. Kisah tersebut menunjukkan bahwa ludruk pada masanya memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar hiburan.

Tag :